CERPEN (TULISAN)


SAVE YOU TONIGHT

Cast : Agung Priyadi Nugraha, Rahmanda and all others

Angin berhembus kencang membuat pepohonan rindang melambai-lambai. Seorang pria terlihat sedang membaca buku tepat dibawah pohon rindang dikampusnya. Pria itu duduk sambil membaca buku dengan teliti. Seakan tak mau melewati setiap kata dari buku itu. Buku kuliahnya mungkin.
Merasa bosan, pria itu melepas kacamata yang sedari tadi bertengger dihidungnya. Ia memijat dahinya yang terasa sangat pegal.
“Huff”  pria itu mendesah, kemudian melihat arloji yang terkait ditangannya. Sudah waktunya untuk mengikuti mata kuliah selanjutnya. Pria itu berdiri dan berjalan untuk menghampiri ruang kelasnya.
“Agung!” mendengar suara seseorang dari belakang memanggil namanya, Agung pun menoleh kebelakang. “Hei! Whats up, gung?” sapa Gilang, salah satu teman Agung setelah berhigh-five dengannya.
“Kau akan masuk kelas matematika hari ini?” tanya Agung memandang Gilang heran. “Ya, kenapa? Begitu heran kah kau melihat aku mengikuti pelajaran matematika?”
Agung tersenyum malas. “Bukankah kau memang tidak pernah mengikuti pelajaran itu?” Agung membalikan kata-kata Gilang.
Agung benar, Gilang memang tidak pernah mengikuti mata kuliah matematika. Pria itu termasuk pria yang biasa saja dalam urusan otak. Sangat berbanding terbalik dengan Agung yang memang intelek dan pintar.
“Ya, mungkin aku kangen dengan dosennya hahaha” Gilang menertawai lelucon yang ia buat sendiri. Agung hanya tersenyum. Entahlah, pria ini benar-benar malas untuk menanggapi Gilang.
Kenapa? Mungkin karena ada satu alasan yang membuat Agung kesal pada Gilang, atau mungkin marah. Hubungan mereka cukup dekat walau tidak bersahabat. Sifat mereka bagaikan angin dan minyak yang susah untuk disatukan. Gilang bisa dibilang seorang playboy. Ia selalu menghabiskan waktunya untuk ke club setiap malam, mempermainkan banyak wanita dan terkadang membuat keributan. Sedangkan Agung, pria itu lebih suka menghabiskan waktunya untuk mempelajari bahasa-bahasa pemrograman daripada harus menghabiskan waktu tidak jelas seperti yang Gilang lakukan. Satu yang bisa kalian ambil, mereka berbeda. Walaupun Agung dan Gilang sama-sama tampan.
Mereka berdua berjalan bersamaan menuju kelas mereka dilantai 2. Tak dapat dipungkiri, selama mereka melangkahkan kaki mereka. Banyak para gadis yang memusatkan perhatian pada mereka dan bergumam kepada temannya bahwa kedua pria itu sangat tampan.
Agung tidak peduli. Stay calm and cool.
Gilang? Yeah, dia tersenyum genit dan menebar pesona kepada gadis-gadis itu.

“Hahaha, bodoh sekali sih gadis-gadis itu” Gilang berucap sambil tertawa disamping Agung. Agung menoleh dan berkata dengan sinis “Maksudmu? Semua gadis-gadis itu bodoh?”
“Yeah, terkadang mereka itu memang bodoh kan?” jawab Gilang santai. Jawaban dari seorang playboy yang paling terkenal sejurusan. Wajarkah jika seorang playboy berkata begitu? Agung mengepalkan tangan kanannya, seakan mengumpulkan semua emosinya didalam genggaman tangannya.
“Sudahlah, ayo kita masuk” Gilang melewati Agung dan memasuki ruang kelasnya. Agung masih tidak bergerak dan tetap berdiri ditempatnya. Ia mendesis pada dirinya. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa aku begitu terlihat membencinya?
Setelah beberapa detik ia berkutat dengan pikirannya. Agung pun akhirnya masuk ke kelasnya kepala yang ia tundukan kebawah lantai. Ia bisa melihat meja dosen masih kosong. Ternyata dosen belum datang. Syukurlah, ia bisa menenangkan otak sebentar sambil menunggu dosennya datang.
Agung mengalirkan pandangannya keseluruh penjuru kelas. Ia melihat teman-teman sekelasnya sedang melakukan berbagai macam aktifitas yang tidak jelas. Ada yang membaca komik, bermain kartu, berbincang-bincang biasa dan bermain laptop.
Namun matanya terpusat pada seorang gadis yang sedang melingkarkan tangannya keleher si pria. Oh, ini masih terlalu pagi untuk melihat pemandangan tidak menyenangkan itu. Ia masih belum bisa untuk mengalihkan pandangan kearah lain. Nafasnya tercekat ditenggorokan dan ruang dadanya terasa dipersempit. Ia merasakan sesak didadanya saat ia melihat Gilang bersama seorang gadis. Rahmanda. Agung mengernyitkan dahinya. “Apa yang gadis itu lakukan disini? Bukankah seharusnya ia disekolah?”
Yeah, Rahmanda adalah adik kelas Agung sewaktu ia masih duduk dibangku SMA. Tapi, Agung heran. Kenapa gadis itu bisa berada disini? Hm, bolos. Mungkin Gilang telah mempengaruhi gadis itu untuk bolos.
Gilang mengelus pipi Rahmanda dan mengecup bibir gadis itu tepat didepan mata Agung. Agung bergumam “Gila”
Jujur saja, Agung memang menyukai gadis itu sejak ia masih SMA. Agung dan dia sempat dekat saat masih SMA. Bisa dibilang bersahabat. Ia selalu bahagia jika melihat Rahmanda tersenyum. Ia selalu ada disaat Rahmanda sedang kesulitan atau membutuhkan seseorang untuk bersandar. Ia selalu siap untuk menjadi guru les gadis berumur 16 tahun itu ketika ia tahu nilai Rahmanda menurun. Tapi sekarang, sangat berbeda dari masa lalu. Rahmanda sudah jatuh ke pelukan seorang Gilang. Setan Playboy yang terkenal disatu jurusan. Awalnya Agung sama sekali tidak setuju kalau Rahmanda berpacaran dengan Gilang, padahal karena Agung lah, Rahmanda dan Gilang bisa saling mengenal. Agung meyakinkan bahwa pria itu sama sekali tidak cocok untuk Rahmanda dan hanya menjadikan gadis itu sebagai bahan taruhan. Hingga akhirnya, hubungan Agung dan Rahmanda menjadi hancur. Mereka berdua tidak berhubungan baik lagi.
Agung menghela nafas berlebihan. Ia meraih headphone dan memasangkannya ketelinganya. Mungkin sedikit musik bisa membuatnya sedikit lebih tenang.
Playing
One Direction – More Than This
                                     
Pria itu memejamkan matanya dan bernyanyi mengikuti alunan lagu yang keluar dari headphone-nya.
“When he opens his arms and
holds you close tonight
it just wont feel right,
cause i can love you more than this”
Agung begitu memperdalam lirik lagu itu. Lagu yang mungkin saat ini bisa mendeskripsikan tentang dirinya. Jauh didalam hatinya ia ingin mengatakan kejujuran untuk Rahmanda. Tapi, ia selalu gagal dalam usahanya untuk mengatakan itu.
“Brakk!”
Bunyi pintu terbuka mampu membuat Agung tergelak hingga membuatnya membuka matanya. Dosen sudah datang ternyata. Pria itu langsung membenarkan posisi duduknya dan bersiap untuk memfokuskan dirinya pada penjelasan dosen tersebut. Walau sebenarnya, ia sama sekali tidak bisa konsentrasi dalam keadaannya saat ini.

***

Agung tidak bisa percaya apa yang telah ia lakukan siang ini. Gilang mengajaknya untuk makan siang bersama di cafetaria kampusnya dan sekarang, ia sedang berada dihadapan Gilang dan Rahmanda. Dan bodohnya, kenapa ia bisa dengan mudahnya mengiyakan ajakan Gilang tadi.
Well, Agung merasa dirinya hanya menjadi obat nyamuk disana. Gilang dan Rahmanda duduk bersampingan dan Agung duduk dihadapan sepasang kekasih itu. Tak ada yang lebih menyakitkan dibanding melihat orang yang kita cintai bermesraan didepan kita.
“Apa aku mengganggu kalian?” Tanya Agung yang sudah mulai bosan karena tau dirinya hanya menjadi pajangan disana. “Kalau iya, aku bisa pergi dari sini” lanjut Agung yang sudah akan mengangkat tubuhnya untuk berdiri.
Gilang dan Rahmanda berhenti bermesraan sejenak dan melihat Agung.
“Oh maaf, aku sampai lupa kalau ada kau disini” kata Gilang terkekeh.
“Ya aku tau, sepertinya kalian asik sekali” Agung berkata datar.
“Haha begitulah”  Gilang menimpali. Sementara gadis yang berada diantara mereka hanya tersenyum kecil. “Manda, aku belakang sebentar.. i’ll be back”
“Hah? Kau mau kemana?” Tanya Rahmanda. Gilang tak menjawab, ia hanya berjalan sendirian kearah toilet di cafetaria itu.
Hanya sisa Agung dan Rahmanda dimeja itu. Suasana awkward terasa dimeja itu. Hening, tak ada obrolan ataupun candaan. Hingga akhirnya Agung memilih untuk memecahkan keheningan.
“Rahmanda” ucap Agung pelan.
“Ya?”
“Apa kabar?”
Rahmanda tersenyum lalu menjawab “Menurutmu?”
Agung tertawa kecil. Ia merindukan atmosfir ini. Sungguh. Saat dimana Rahmanda dan dirinya sedang bercanda riang tanpa ada sesuatu yang aneh sedikitpun. Agung memang jauh lebih tua dari Rahmanda, tapi dulu ia membiarkan gadis itu tidak memanggilnya ‘Kakak’ karena ia tau itu mungkin akan membuat hubungan mereka terasa kaku.  
“Haha, aku hanya bertanya. Kita tidak pernah berhubungan baik sejak..”
“Sejak aku bersama Gilang?” potong Rahmanda.
“Ya” Agung menjawab singkat. “Dan..bagaimana hubunganmu dengan Gilang? Dia baik padamu ‘kan?”
Rahmanda mengangguk. “Ya, dia selalu baik padaku”
Ya, tapi dia tidak baik untukmu. Agung bergumam dalam hati dan menundukan kepalanya.
“Tapi, aku merasa ada sesuatu yang hilang.. sejak aku bersamanya. Aku benar-benar merindukan sosok seorang sahabat” ucap Rahmanda pelan tapi ia yakin Agung pasti bisa mendengarnya.
Agung mengangkat kepalanya untuk menatap gadis dihadapannya. Ia yakin sekali kata-kata Rahmanda barusan untuk dirinya. Rahmanda bilang bahwa gadis itu merindukan dirinya. Agung melengkungkan senyuman dibibirnya.
“Itu aku kan?” Tanya Agung dengan senyuman menggoda.
“Hahaha, kau itu terlalu percaya diri!”
“Kau tidak punya sahabat lagi selain aku, Manda”
Rahmanda langsung melempar tisu yang ada dihadapannya kewajah Agung dengan main-main.
“Hahaha” Pria itu hanya tertawa. Sekarang Agung bisa menghirup oksigen lebih tenang. Gadis yang ia cintai sudah kembali seperti dulu lagi.
“Jadi, kau masih mau berteman dengan ku kan?” tanya Rahmanda hati-hati. Ia masih takut pria itu akan menjawab tidak. Agung terdiam sejenak lalu kemudian mengangguk diselingi senyuman diwajahnya. Dimata Agung dia bukanlah hanya teman atau sekedar Adik kelas. Tapi lebih.
“Sure. You’ll always be my best friend, Manda”
Mendengar itu Rahmanda tersenyum lebar. Senyuman termanis yang pernah ia berikan kepada Agung. Dan Agung merindukan senyuman itu terlukis diwajah Rahmanda.
“Do you want ice cream?” tawar Agung kepada Rahmanda. Karena ia tau gadis itu sangat menyukai ice cream.
“Ice cream? Kau akan memebelikannya untukku?”  Tanyanya sambil menunjukan cengiran senang.
“Ya, jika kau mau” Rahmanda mengangguk cepat, matanya terasa berkilat-kilat setelah Agung mengatakan akan membelikannya ice cream.
“Lihat, matamu bercahaya sekali saat aku bilang aku membelikanmu ice cream” Agung menggelengkan kepalanya kepada Rahmanda yang tertawa, lalu berjalan kearah tempat pemesanan dan memesan dua buah ice cream disana.
Agung menyipitkan matanya ketika ia melihat sosok familiar memeluk seorang pria didekat toilet (jaraknya tidak jauh dari tempat pemesanan). Beberapa detik kemudian pria itu melebarkan matanya.
“Gilang? What the hell is he doing there?!” geram Agung saat ia menyadari Gilang sedang memeluk gadis lain disana. Hati Agung terasa memanas. Emosi kembali memenuhi dirinya.
“Ini pesanan anda”
“Terima kasih” ucap Agung setelah mengambil dua buah ice cream cup dari pelayan itu.
Sebelum ia berjalan, Agung menolehkan kembali kepalanya kearah Gilang. Dan guess what? Gilang sekarang malah mengeratkan pelukannya pada gadis dihadapannya. Well, gadis itu sepertinya adalah‘ayam kampus’
Bagaimana bisa dia melakukan itu? Padahal jelas-jelas kekasihnya masi berada di area yang sama dengannya?! Agung menggelengkan kepalanya. Ia membawa dua buah ice cream dan berjalan kembali ke meja tadi.

“Em Manda, bagaimana kalau kita pergi ke taman?” ajak Agung setelah memberikan ice cream kepada Rahmanda. Ia mencoba bersikap sebiasa mungkin agar tidak dicurigai oleh Rahmanda.
“Hah? Kenapa? Aku bahkan belum makan ice cream-nya” tanya Rahmanda heran.
“Bawa saja, ayo cepat!” Agung meraih tangan gadis itu dengan sebelah tangannya yang bebas dari ice cream dan menariknya keluar dari area cefetaria. Salah satu alasan Agung adalah agar gadis itu tidak melihat adegan Gilang yang notabene pacarnya berpelukan bersama gadis lain.
Mungkin jika Rahmanda melihatnya, salah satu hal yang terburuk terjadi adalah Rahmanda memutuskan hubungannya dengan Gilang. Walaupun hal itu sama sekali tidak buruk bagi Agung. Justru itulah keinginan Agung sebenarnya.
“Well, apa yang membuatmu menarikku keluar dari cafetaria?” tanya Rahmanda ketika mereka berdua sudah sampai ditaman didekat kampus mereka. Taman yang dulu pernah mereka pakai untuk belajar bersama dan menghabiskan waktu berdua.
“Ti-tidak, hanya ingin...” Agung menghentikan kata-katanya. Mencoba mencari alasan yang tepat untuk ia jawab pada Rahmanda. Karena ia tidak mungkin menjawab kalau ia baru saja melihat Gilang dengan gadis lain berpelukan didekat toilet. Tidak, itu ide buruk.
“Kita duduk disana” tanpa menjawab pertanyaan Rahmanda, Agung menarik tangan gadis itu untuk duduk disebuah bangku panjang didekat taman. Tepat dihadapan waterfall. Jadi mereka berdua bisa duduk sambil menikmati keindahan air terjun dikampusnya.
Mereka berdua duduk disebuah bangku berwarna hijau. Banyak para mahasiswa dan orang luar yang menghabiskan waktunya disini. Tempat ini sama sekali tidak buruk. Banyak orang yang tersenyum ditempat ini. Udara yang dihasilkan tempat ini juga bagus. Tidak ada polusi dan hampir seluruh tempat ini dipenuhi pepohonan rindang.
Agung menolehkan kepalanya ke seorang gadis disampingnya. Gadis itu sedang memakan ice cream-nya dengan serius. Agung hanya bisa menahan tawa melihat tampang menggemaskan Rahmanda yang sedang menghabiskan ice cream itu. Rahmanda terlihat seperti anak kecil yang baru saja dibelikan ice cream oleh orang tuanya.
Hening menyelimuti suasana mereka. Rahmanda masih sibuk menghabiskan ice cream-nya, sementara Agung hanya menikmati angin sejuk ditempat itu.
“Sudah lama kita tidak begini ya?” Rahmanda mencoba untuk memecahkan keheningan. Agung menoleh kearahnya yang sedang menopang dagu untuk menatap kearah air terjun dihadapannya. Agung ingat posisi itu. Posisi dimana Rahmanda duduk dan menaikan kakinya lalu menopangkan dagunya dilututnya. Ia tau Rahmanda selalu melakukan ini jika gadis itu sedang merasakan angin sejuk disini.
“Ya, kita terlalu sibuk dengan urusan masing-masing sih” ucap Agung yang disambut anggukan oleh Rahmanda. “Kau benar, aku bahkan sudah lama tidak menghubungimu. Padahal dulu kita sering texting setiap malam” Rahmanda tertawa.
Agung tersenyum muram.
“Em.. Agung, Aku ingin bertanya...”
“Ya?”
“Apakah aku sudah berbeda?” tanya Rahmanda yang menatap langsung mata Agung. Agung mengernyit dan membalas tatapan gadis itu. “Maksudmu?”
“Semenjak aku bersama Gilang. Kau hampir sama sekali tidak menyapaku, tidak menghubungiku, tidak melakukan komunikasi sama sekali. Aku takut aku menjadi sesuatu yang aneh bagimu dan kita tidak akan bisa berteman lagi”
Apa yang harus Agung jawab? Benar semua yang dikatakan Rahmanda kalau ia dan Agung tidak berinteraksi sama sekali setelah Gilang menjadi kekasihnya. Mungkinkah Agung cemburu? Atau mungkin pria itu mencintainya?
Agung mendesah lalu menjawab. “Dulu memang aku tidak setuju kau berhubungan dengan Gilang, aku sudah memperingatkanmu tapi kau malah marah-marah padaku. Jadi ya...”
“Maaf” potong Rahmanda.
“Maaf untuk apa?”
“Maaf jika aku mengecewakanmu”
Agung tersenyum pada gadis itu, ia langsung mengacak rambut Rahmanda lembut. Ia tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum pada Rahmanda. Gadis itu tertawa ketika Agung mengacak-acak rambutnya.
Beberapa detik kemudian mereka tertawa riang, seolah tak terjadi apa-apa di masa lalu. Mereka tersenyum lepas sambil sesekali bercanda. Setidaknya, apa yang mereka lakukan hari ini bisa membuat Agung menghapus rasa rindunya terhadap Rahmanda.
Hingga tiba sebuah deringan ponsel membuyarkan dan menghentikan candaan mereka. Handphone milik Rahmanda berbunyi dan Agung bisa menebak bahwa itu pasti panggilan dari Gilang. Ya, pria itu memang selalu mengganggu.
Rahmanda mengangkat handphonenya dan menempelkan benda itu ditelinga kanannya. “Hallo?” sapanya pada orang diseberang salurannya.
“Ya...aku? Aku sedang bersama Agung. Apa? Sekarang? Tapi...”
Agung memiringkan kepalanya heran melihat pembicaraan yang terjadi antara Rahmanda dan orang disaluran telfonnya.
Rahmanda menatap Agung sejenak lalu kembali berkata “Baiklah, aku akan kesana dalam 5 menit” ujar Rahmanda sebelum menekan ‘end call’ dihandphone-nya. Ia kembali menatap Agung setelah memasukan handphone kedalam tasnya.
“Aku harus pergi” ucapnya pada Agung. Agung menundukan kepalanya. Sebenarnya Rahmanda tau bahwa pria ini masih menginginkan kehadiran dia disampingnya. Ia tau betul itu.
“Ya, sepertinya kau memang harus pergi”
Rahmanda tersenyum pada Agung dan membalikan tubuhnya untuk meninggalkan pria itu sendirian. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti dan menolehkan kepalanya
“Kita masih berteman kan?”
Agung kembali tertawa. Biarpun begitu, sifat calm and cool tak bisa hilang dari dirinya.
“Sure, like i said before...you still my best friend” ucap Agung diselingi senyumannya. Senyuman pahit lebih tepatnya.
Kenapa Rahmanda selalu bertanya tentang pertemanan? Tak pernahkan dirinya sadar kalau Agung juga mencintainya? Tak pernahkah dia berpikir apa yang menyebabkan hubungannya dan Agung hancur dulu? Itu semua karena Agung mempunyai rasa cinta dengan gadis itu! Karena itu semua yang membuat Agung cemburu dan nyaris gila. Itu semua karena Rahmanda.
Agung menghembuskan nafasnya setelah ia melihat punggung Rahmanda yang semakin lama berjalan menjauhinya.

***

Suara dentuman musik DJ yang begitu kencang mampu membuat telinga Rahmanda ingin pecah. Ia menutup telinganya dengan kedua tangannya. Ia menolehkan pandangan ke segala arah. Tempat ini mengerikan. Pikirnya. Ia tak habis pikir kenapa kekasihnya, Gilang, bisa membawanya ketempat seperti ini. Ini sudah jam 21:00 tapi ia belum juga pulang kerumahnya.
Ia duduk dengan gusar dikursi tinggi didekat meja bar. Dia ditinggalkan sendirian oleh Gilang ditempat ini. Tempat yang sangat asing bagi Rahmanda. Seumur hidupnya, ia belum pernah menginjakan kaki ditempat seperti ini. Tapi bodohnya, kenapa ia bisa memperbolehkan Gilang mengajaknya masuk ketempat ini?
Banyak sekali orang-orang yang sedang bermabuk ria lalu menari di dance floor. Rahmanda sama sekali tidak tertarik. Ia hanya ingin pulang.
Ia mencoba kembali melayangkan pandangannya keseluruh ruangan itu, mencari Gilang dan menyuruh pria itu untuk mengantarkannya pulang. Tapi nihil, Gilang tak terlihat, seolah ditelan oleh lautan manusia yang sedang menghabiskan malam mereka disana. Bagaimana bisa Gilang meninggalkan seorang gadis berumur 16 tahun ditempat seperti ini?

Ketakutan menyergap dirinya ketika ia merasakan seseorang meraih pinggangnya, seolah ingin memeluk gadis itu. Rahmanda menoleh kearah pria yang sedang memeluk pinggangnya. Ia sedikit lega setelah melihat Gilang yang berada dibelakangnya. “Kau dari mana saja?” tanya Rahmanda sedikit berteriak melihat wajah Gilang yang sudah memerah. Sedang mabuk sepertinya.
“Maaf, aku meninggalkanmu” ucapnya dalam keadaan mabuknya.
“Bisa kita pergi dari sini? Aku ingin pulang, tempat ini menyeramkan”
“Tapi, aku masih ingin bersenang-senang disini Rahmanda. Ini tempat yang menyenangkan!”
“NO! Antarkan aku pulang, aku takut disini”
“Takut? Hahahahahahhaahahhaha” Gilang tertawa tepat didepan wajah Rahmanda. Gadis itu hanya menundukan kepalanya. Ia terlalu takut untuk melihat ekspresi Gilang yang sepertinya sudah mabuk berat.
“Ayolah babe, kita bersenang-senang disini! Lupakan semua masalahmu dan minumlah ini” Gilang memberikan sebuah gelas kecil berisi minuman. Wine sepertinya.
Rahmanda menggeleng cepat. “Tidak!”
“Satu kali saja...hem?” paksa Gilang. Rahmanda masih tetap menggeleng. Ia tidak ingin terkontaminasi oleh minum-minuman keras seperti itu.
“Minumlah... rasanya enak sekali loh”
“Jadi setiap malam kau begini?” Rahmanda bertanya.
“Begitulah, ini jauh lebih baik daripada dirumah dan mengerjakan tugas. Hahahahaha”
“Kau gila!!!” cecar Rahmanda kesal.

Dengan kasar Gilang menarik pinggang gadis itu agar jarak mereka lebih dekat. Jarak mereka hanya terpaut beberapa inci saja. Rahmanda bisa mencium bau alkohol yang keluar dari nafas Gilang. Mungkin satu gerakan lagi, Gilang sudah akan merebut ciuman dari bibir Rahmanda. Rahmanda semakin ketakutan ketika ia menyadari pelukan Gilang semakin menguat. Ia menggeliat dalam pelukan Rahmanda. Ia tak mau dirinya menjadi korban dalam hal bodoh yang Gilang lakukan saat mabuk.
“Lepas” ucap Rahmanda yang masih berusaha untuk melepaskan diri dari Gilang. Ia baru menyadari Gilang sangat menyeramkan saat ia mabuk.
“Hei, tenang saja...kau ini pacarku kan?” Gilang berkata lembut sambil membelai wajah cantik Rahmanda dengan tangannya. Menggelikan. Satu permintaannya, ia hanya ingin terbebas dari Gilang malam ini. Ia bisa melihat Gilang sudah seperti binatang buas yang siap menerkam Rahmanda.
“Menyingkirlah kau B*TCH!!” Rahmanda merasakan tubuhnya ditarik kebelakang dan pipinya terasa panas akibat sebuah tamparan dari seorang wanita yang dandanannya begitu seronok. Ia memegang pipinya yang memerah dan menatap wanita itu dengan tatapan heran.
“Siapa kau??!!” tanya Rahmanda emosi. Wanita yang baru saja menamparnya menatap Rahmanda dengan tatapan membunuh. “Siapa aku? Hahahahaha. Kurasa kau sudah gila karena telah menggoda pacarku nona kecil!”
“Pacarmu?” Rahmanda bertanya tidak mengerti. Wanita itu tersenyum sinis. “Ya, dia pacarku. Kau tau? Dia hanya ingin memperkainmu saja. Memangnya kau pikir Gilang akan menyukai gadis kecil sepertimu itu hah?!!” wanita itu berkata diselingi tawa yang kencang.
“Apa?” Rahmanda membuka mulutnya tidak percaya. “Lebih baik kau pulang” ucap Gilang dengan raut muka datar sebelum ia menghilang dari hadapan Rahmanda.
Mata Rahmanda memerah, air mata sudah terkumpul diujung matanya dan telah siap untuk jatuh memembasahi pipinya. Tanpa berpikir apapun lagi Rahmanda langsung berlari mencari pintu keluar club itu. Sesampainya diluar club, Rahmanda langsung berlari mencari sebuah pertolongan. Ia langsung masuk kedalam sebuah telepon umum kaca dan menekan nomor telepon yang sudah ia hapal diluar kepala. Ia memejamkan matanya setelah mendengar nada tersambung. Semoga orang itu belum mengganti nomor handphone-nya.

***

Agung sedang mengerjakan tugas kuliah didalam laptopnya. Ia menoleh setelah menerima sebuah lembaran buku yang mendarat dikepalanya. “Aw” Agung meringis sambil menolehkan kepalanya untuk melihat si pelaku. Ia bersumpah akan mencekik siapapun yang melemparnya dengan buku itu. Namun matanya membelalak ketika ia melihat seorang gadis berwajah indonesia-inggris sedang berdiri diambang pintu.
“Hey...” sapanya sambil tersenyum.
“Karen? How are you?!!” pria itu langsung berdiri dari meja belajarnya dan menghampiri gadis itu untuk memeluknya. Beberapa detik mereka berpelukan untuk melepas kangen, Agung melepaskan pelukannya untuk bertanya. “Kapan kau sampai di indonesia?” tanya Agung yang tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Melihat sepupunya baru pulang dari inggris. *ciye inggris :P wkwkwkwk*
“Aku sampai kemarin sore, aku penasaran seperti apa sepupuku saat sudah berumur 19 tahun. So, how are you? Still the nerd of the class but the coolest in college huh?” tanya Karen sambil tersenyum. Agung tertawa. “Begitulah” jawabnya singkat.
“I miss you so much, gung. Kapan-kapan datang ke negara ku ya?”
“England? Yeah, tentu. Suatu hari aku akan kesana dan aku akan bermalam di apartemenmu”
“Aku akan mengusirmu!” canda Karen. Agung tertawa lalu berkata "Dan aku harus menghukummu karena masuk kekamar orang seenaknya, Nona Smith"
"In your dream, Tuan Agung"
Karen kemudian duduk dikasur milik Agung. Ingat, hubungan mereka adalah sepupu. Sudah jelas Karen pasti sering berdua saja dengan Agung dikamar seperti ini.
"Okay, tell me about your life, Agung" katanya. Agung tertawa dan berkata "tak ada yang spesial, semakin hari aku menyadari aku adalah orang terbodoh di dunia ini"
"Why?" Karen mengerutkan alisnya
"Aku tidak tau, you can call me a wimp"
"Ah, pasti ini tentang pacarmu kan?" Tebak Karen sok tau. Agung menggeleng.
"Bukan, sama sekali bukan! Aku punya teman, dan aku sudah mengenalnya sejak SMA, tapi..."
"Do you love her?" Tanya Karen memotong kata-kata Agung karena ia tau Agung tidak mungkin begini kalau pria itu tidak mencintainya.
Agung terdiam. Ia tak tau harus menjawab apa. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab, ia tak mau kalau ia merasa bersalah pada Rahmanda karena ia telah mencintainya.
Agung membuka mulutnya dan menjawab
"I don't know" jawabnya pelan. Karen bisa membaca suara Agung yang terlihat terluka. "Itu bukan jawaban"
Karen meletakan kedua tangannya dibahu Agung dan menatap bola mata hitam pria itu. "Yeah, I do love her" aku Agung pada sepupunya.
"Tell Rahmanda you love her" kata Karen meyakinkan. Agung bisa melihat wajah cantik khas gadis-gadis inggris tergambar di wajah sepupunya. Cantik. Mungkin jika Karen bukan sepupunya, Agung akan menyukai gadis berambut cokelat itu.
"But, she was taken" timpal Agung.
"Hey, Agung Priyadi Nugraha. Kau tau aku selalu berpikir kau itu pria yang bisa menaklukan segala hal, kau yang mendukungku kalau aku sedang putus asa, kau yang selalu membantuku kalau aku sedang kesusahan. Tapi kenapa hanya karena dia sudah dimiliki orang lain kau jadi begini? Ya, maybe I should call you a wimp" cerocos Karen panjang lebar. Agung tersenyum. Jujur saja, ia merindukan ocehan-ocehan sepupunya. Walaupun terkadang sepupunya itu menyebalkan, ia sayang pada Karen.
"Yeah, you right" agung mengangguk mengerti. "Tapi..." Agung kembali mendesah, Karen memutar bola matanya sebal.
"Just because she has a boyfriend so you can't steal his heart? Remember, football has a goal keeper but doesn't mean you can't score" ucapnya dalam dengan aksen britishnya yang jelas.
"Wow, that's deep" balas Agung.
"Memang"
"Oke, I'll try it then. Thank you Karen, you're the best" Agung kembali memeluk Karen. Ya, kapan lagi dia bisa memeluk tubuh sepupunya ini.

"Now, ceritakan bagaimana kehidupanmu di inggris 'huh? Kau tinggal sendiri disana? Dan kau masih ikut club dance?" Sekarang giliran Agung yang bertanya pada sepupunya. Ya, Karen Smith. Ia adalah gadis keturunan indonesia-inggris. Kau bisa mengatakan dia sangat cantik karena memang kulit dan wajahnya 'bule banget'. Kulit putih dengan rambut brunette sudah menunjukan dia mendominasi darah ayahnya yang memang asli orang inggris.

"Ya, aku senang diumurku yang masih muda aku sudah bisa mandiri" Karen tersenyum lembut.
"Hahaha, kau sudah tidak muda Karen!"
"Sial kau!"
Mereka berdua bercanda, tertawa dan mengobrol sambil sesekali Karen meninju pria itu dengan bantal.

Hingga getaran handphone milik Agung menghentikan aktifitas mereka.
"You should get that" suruh Karen menunjuk ke handphone Agung yang bergetar diatas meja.
"Siapa yang menelfon malam-malam begini?" Tanya Agung heran. Karen hanya bisa mengangkat bahunya.

Agung melihat nomer yang menelfonnya didisplay handphone-nya. Ia mengernyit. Nomornya tidak ia kenal. "Sepertinya ini nomor telepon umum" ucapnya sedikit ragu lalu menekan tombol hijau di handphone-nya.
"Hallo" sapanya seteleh menempelkan handphone-nya ketelinga kanannya.
Hening. Agung belum mendengar suara dari si penelepon, tapi ia bisa mendengar suara isakan ketakutan dan suara lalu lintas.
"Hallo, siapa ini?" Tanya Agung. Orang itu belum menjawab. Agung mulai jengkel.

"Hello... Ini tidak lucu.. Katakan siapa kau atau aku akan menutu—”
"Agung" ucap suara diseberang dengan terisak.
Demi Tuhan, ia tau siapa pemilik suara ini.
Suaranya terdengar lelah dan lemas.
"Rahmanda?" Agung berucap tidak percaya. Untuk apa Rahmanda menelfonnya malam-malam begini? Pikir Agung.

"Tolong aku" suara Rahmanda semakin pelan dan berdenguk hingga Agung harus menajamkan telinganya. Rahmanda menangis? 
"Hah? Manda? Ada apa denganmu?" Tanya Agung panik. Karen yang berada dibelakang Agung, hanya memandang pria itu heran.
"Kau dimana?"
Rahmanda menjawab tempat ia berada sekarang dengan diiringi tangisan. Agung mengangguk mengerti.
"Tetap disana, aku akan menjemputmu" kata Agung akhirnya. Ia menutup handphone-nya lalu mengambil jaket dan kunci motornya yang tergeletak dimeja.
Ia berlari menerobos pintu kamarnya setelah mengatakan
"Aku pergi dulu" pada Karen yang masih diselimuti keheranan akan kepergian Agung.

***

Rahmanda duduk ditempat telepon umum dengan memeluk lututnya. Ia benar-benar butuh seseorang saat ini. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya! Keadaannya malam ini benar-benar mengerikan. Ia bahkan sudah tidak berani untuk melangkahkan kaki keluar dari pintu telepon umum sendirian.
Matanya masih terpejam, tapi ia masih menangis. Pipinya basah, punggungnya ia sandarkan disisi-sisi kaca telepon umum itu. Ia terus memejamkan matanya sambil terus membiarkan air matanya jatuh.
Ini hari yang begitu mengerikan baginya. Karena hari ini, ia menyadari bahwa Gilang sama sekali bukan pria baik-baik dan karena hari ini pula ia terkena tamparan dari seorang wanita seronok yang tidak ia kenal.
Rahmanda memegang pipi sebelah kirinya yang terkena tamparan tadi. Sakit.

"Tok tok" ia terlonjak kaget ketika mendengar sebuah ketukan dipintu telepon umum. Matanya membulat saat melihat seorang pria berdiri dibalik pintu. Ia mengangkat dirinya saat tau Agung sudah berada dihadapannya. Ia membuka pintu kaca itu dan langsung memeluk tubuh pria itu.

Agung masih belum bisa percaya. Rahmanda langsung memeluk tubuhnya ketika ia menghampiri gadis itu. Ia bahkan belum bertanya apakah gadis itu baik-baik saja.
Rahmanda memeluk erat tubuh pria itu dan menangis didadanya. Menangis sekencang-kencangnya. Menghilangkan kejengahan yang menyesakan dadanya. "Menangis lah.. Biarkan semua air matamu itu keluar" kata Agung ditelinga gadis itu. Ia mengelus rambut Rahmanda lembut.
Tangisan Rahmanda semakin menjadi, ia bisa merasakan bajunya basah karena air mata yang dikeluarkan oleh gadis itu.

Rahmanda belum mengatakan sepatah katapun. Tubuhnya masih gemetaran, ketakutan masih menguasai dirinya.
"Aku takut" ucap Rahmanda akhirnya, tangisannya sudah agak mereda.
"Takut? Kenapa kau bisa ada ditempat begini?" Agung melepaskan pelukannya dan menatap langsung mata gadis itu. Dan saat itu juga Agung menyadari bahwa gadis itu memakai mini dress berwarna krem dan rambut panjangnya yang sudah acak-acakan ia biarkan tergerai.
Oh god, kenapa gadis itu bisa mengenakan pakaian seperti itu di udara dingin seperti ini. Dengan cepat Agung melepas jaketnya dan memakaikannya pada Rahmanda agar gadis itu tidak kedinginan.
"Aku akan mengantarmu pulang. Ayo"

***

Beberapa menit kemudian, mereka berdua akhirnya tiba didepan rumah Rahmanda. Agung bisa merasakan Rahmanda yang melingkarkan tangannya erat saat ia mengendarai motornya. Seolah Rahmanda takut akan kehilangan pria itu.

Agung membuka kunci pintu rumah Rahmanda. Ia tak membiarkan gadis itu membukanya, karena dalam penglihatan Agung, Rahmanda sedang dalam shock berat.
Ia berdua masuk kedalam kamar Rahmanda. Rumah gadis itu begitu sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan disana. Ya, kedua orang tua Rahmanda adalah Hardworker. Mereka hanya pulang sesekali dan jarang sekali untuk berkunjung menengok anak satu-satunya itu.

"Sekarang, kau mau ceritakan apa yang terjadi?" Tanya Agung ketika ia dan Rahmanda sudah duduk diranjang milik Rahmada. Rahmanda masih mengantur nafasnya. Air mata masih keluar dari matanya, walaupun sudah tak banyak seperti tadi. Agung mengulurkan tangannya dan menghapus sisa-sisa air mata dipipi Rahmanda.
"Gilang..." Rahmanda berkata dengan suara serak.
Mendengar nama itu keluar dari bibir Rahmanda, Agung mengernyitkan dahinya. "Apa yang dia lakukan padamu?" 

Rahmanda menatap mata Agung dalam. Agung bisa membaca ekspresi ketakutan dikedua bola mata gadis itu.
Lalu Rahmanda menceritakan segalanya pada Agung. Menceritakan bahwa gadis itu dibawa ke sebuah club orang dewasa, ditempat itu Rahmanda ditinggalkan sendirian disana, dipaksa meminum wine, terkena tamparan oleh pacar Gilang lainnya.
Bibir Rahmanda bergetar, hidungnya memerah. Ia menyesal. Kenapa ia bisa begitu bodoh.

Selama Rahmanda bercerita, Agung hanya mendengarkan, mengusap rambut gadis itu pelan sambil sesekali menggumam "ssshh.." saat Rahmanda mulai menjatuhkan air matanya lagi.
"Dan..aku sama sekali tidak tau jika kau tidak datang menjemputku" kata Rahmanda yang sudah ingin mengakhiri ceritanya. Agung tersenyum. Walau jauh didalam hatinya ia marah. Marah pada Gilang. Tangannya sudah gatal dan ingin meninju wajah pria itu.

"Terima kasih" ucap Rahmanda tersenyum. Senyumannya sangat manis. Senyumannya mampu membuat Agung ikut tersenyum lagi. Kali ini ia berani bertaruh, senyuman Rahmanda bukan hanya senyuman tanda terima kasih. Tapi senyuman kasih sayang yang tulus.

"Sudah lebih baik?" Tanya Agung. Rahmanda mengangguk. Ia merasa hatinya jauh lebih tenang ketika ia menceritakan segalanya pada pria dihadapannya.

"Ya, aku ingin tidur" ucap Rahmanda. Kali ini Agung mengangguk. "Tidurlah, kau pasti lelah"
Rahmanda membaringkan tubuhnya, Agung menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut. Lalu duduk disamping Rahmanda dan menggenggam erat tangan gadis itu lembut.

"Mau menyanyikan lagu untukku sebelum aku tertidur?"

Agung tertawa lalu berkata "kau benar-benar ingin mendengarkanku bernyanyi?"

Rahmanda mengangguk.
"Baiklah.. Aku akan bernyanyi untukmu" aku tersenyum. Rahmanda bisa melihat Agung tersenyum. Tangan mereka berdua masih tergenggam erat.
Agung menarik nafas panjang lalu mengeluarkan suaranya untuk bernyanyi. Dia mulai bernyanyi. Suaranya tidak buruk. Rahmanda tersenyum sambil menikmati setiap nada yang keluar dari mulut gadis itu.

"It's a quarter to three can't sleep at all
He's so overrated
If you told me to jump, I'd take the fall
And he wouldn't take it
All that you want's under your nose, yeah
You should open your eyes but they stay closed, closed"

Rahmanda bisa merasakan genggaman tangan pria itu semakin lama semakin mengerat.

"I, I wanna save you
Wanna save your heart tonight
He'll only break ya
Leave you torn apart
I can't be no superman,
But for you I'll be super human
I, I wanna save ya, save ya, save ya tonight"

Lalu Rahmanda tertidur.

Agung yang menyadari gadis itu telah tertidur. Ia sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Agung melepaskan genggaman tangan Rahmanda. Lalu bangkit dari tempat tidur gadis itu pelan-pelan, berharap ia tak membangunkan gadis itu. Agung jalan berjingkat-jingkat untuk keluar dan pulang kerumahnya. Namun ia mendengar suara Rahmanda memanggil namanya.

"Agung"

Agung menghentikan langkahnya dan terdiam sejenak. Ia ingin mendengar apakah gadis itu memanggil namanya lagi. "Agung" panggil Rahmanda kedua kalinya.

"Jangan pergi" ucapnya. Agung tidak tau apakah Rahmanda membuka matanya atau tidak. Tapi mendengar Rahmanda mengatakan 'jangan pergi' saat itu juga Agung membalikan badannya dan kembali melesat menuju tempat tidur, menggenggam kembali tangannya erat dan mengecup kening Rahmanda lembut.
“Ya, aku tidak akan meninggalkanmu” bisiknya pelan. Walau ia yakin Rahmanda tak akan mendengarnya. Pada detik itu juga Agung bisa merasakan tangan Rahmanda yang semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Agung. Seolah ia sama sekali tidak ingin ditinggalkan sendirian oleh pria itu. Agung tak bisa menahan keinginan untuk mencium tangan gadis itu. Dan Agung mencium lembut tangan Rahmanda dan kembali berbisik. “Selamat tidur, Rahmanda”

***

Rahmanda terbangun dari tidurnya dengan seorang pria disampingnya. Agung berada disampingnya dengan mata yang tertutup. Posisi mereka hanya berjarak beberapa centimeter saja. Tangannya masih menggenggam tangan Rahmanda erat. Gadis itu mengeluarkan sebelah tangannya yang bebas dan mengelus pipi pria disampingnya dengan lembut.
Lalu Rahmanda melihat mata Agung yang terbuka sedikit membuat Rahmanda menghentikan pekerjaannya. Pria itu tersenyum dan berkata. “Terus, rasanya sangat amazing”
Rahmanda tersenyum dan tertawa kecil lalu bangkit dari posisinya dan berjalan kekamar mandi. Agung tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mengingat ia tertidur disini, tepat disamping tubuh gadis yang ia cintai. Walaupun ia berhasil menjalankan misinya yaitu menjaga gadis itu tadi malam.
Agung berdiri dibalkon kamar Rahmanda sambil menunggu gadis itu selesai mandi. Ia bisa merasakan angin dan matahari pagi begitu cerah hari ini. Tak seharusnya hari ini dilalui dengan kesedihan. Dan tadi pagi, ia sudah melihat senyuman Rahmanda. Itu membuat suasana hatinya jauh lebih baik.
Beberapa menit kemudian, Agung merasakan ada seseorang yang ikut bergabung dengannya dibalkon. Rahmanda sudah mengganti baju dan ia terlihat jauh lebih segar pagi ini. Senyuman terkembang dibibirnya. “Bagaimana perasaanmu? Sudah jauh lebih baik?” tanya Agung dengan mata yang terus memandang kearah depan.
“Ya, jauh lebih baik”
Keheningan menyelimuti mereka. Mereka berdua masih berkutat dalam pikirannya masing-masing. Terlebih Agung, ia ingin mengatakan pada Rahmanda perasaan dia yang sesungguhnya. Ia ingin mengungkapkan sesuatu. Tapi ia masih belum berani. Agung menggigit bibir bawahnya. Ia bingung. Hingga akhirnya, Agung menolehkan kepalanya kearah Rahmanda dan membuka mulutnya untuk mengeluarkan kata-kata.
“Em.. Rahmanda” ucapnya gelisah. “Ya?”
Agung masih bingung. Ia takut kalau ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan hal ini pada gadis itu. Rahmanda menoleh kearah Agung. Tangannya masih memegang tralis besi yang ada dibalkonnya. Agung bisa melihat. Mata itu. Wajah itu. Semua yang ada didiri Rahmanda. Ia ingin memilikinya. Ia ingin menjadi pahlawan untuk gadis itu dikala sedih, ia ingin membantu gadis itu dikala Rahmanda kesusahan. He’ll do anything for her. Tapi kenapa rasanya susah sekali untuk mengatakan bahwa ia menyukai Rahmanda. Menyukai semua yang ada didiri Rahmanda.
“Apa yang ingin kau katakan?” Tanya Rahmanda yang sudah menangkap ada sesuatu yang aneh dalam diri Agung. “Sebelumnya aku...aku minta maaf”
“Hah? Minta maaf kenapa?”
“Karena, karena aku mencintaimu Rahmanda” akunya singkat. Pengakuan Agung barusan nyaris membuat bola mata Rahmanda hampir keluar dari tempatnya. Gadis itu menutup mulutnya dengan tangannya karena saking terkejutnya.
“A-aku.. aku tau ini hal bodoh. Tapi..”
Agung menghentikan kata-katanya. Ia bingung apa yang harus ia katakan selanjutnya. Ia bisa melihat gadis itu masih terkaget. Kaget akan pengakuan Agung.
Mata Rahmanda tiba-tiba berair. Air mata sudah menumpuk pupil matanya, gadis itu tidak berani untuk mengedipkan matanya karena ia takut air mata benar-benar jatuh kepipinya. Ia sudah terlalu banyak menangis dihadapan Agung. Tolonglah, kali ini biarkan ia menghadapi pria itu tanpa air mata.
Agung tiba-tiba merasa menyesal. Ia kembali merasa menjadi pria bodoh. Seharusnya ia tak mengatakan hal itu pada Rahmanda. Bagaimana kalau nanti Rahmanda akan menjauhinya? Agung menggelengkan kepalanya. Tidak, dia bukan gadis seperti itu.
“Maafkan aku.. aku tau ini semua kesalahanku... aku sama sekali tidak tau kalau kau—” belum sempat Rahmanda melanjutkan kata-katanya, Agung sudah menyela. “ssh...ini bukan kesalahanmu”
Rahmanda hanya menggeleng. Dan sebulir air matapun kini jatuh dipipinya. “Iya, ini salahku. Aku sudah banyak menyakitimu selama ini”
“Tidak, ini salahku. Aku yang membiarkan diriku jatuh cinta padamu. Aku yang berharap terlalu tinggi hingga kau jadi milik Gilang. Awalnya aku tidak terima dan aku sama sekali tidak mau melihatmu bersama setan playboy itu” jelas Agung tepat dihadapan Rahmanda. Rahmanda sama sekali tidak bisa untuk tidak mengelus pipi pria itu. Ia mengulurkan tangannya dan membiarkan jari-jarinya menari dipipi pria itu. Rahmanda mengelus pipi Agung seperti yang ia lakukan tadi pagi.
Tiba-tiba sebuah lagu mengisi otak Agung. Ia membuka mulutnya dan membiarkan lagu itu keluar dari mulutnya. Ia bersenandung kecil.
“Oh now you're at home
And he don't call
Cause he don't adore ya
To him you are just another doll
And I tried to warn ya


What you want, what you need
Has been right here, yeah
I can see that you're holding back those tears, tears”
Agung bisa melihat Rahmanda yang kaget karena Agung menyanyikan lagu itu untuknya. Lalu Agung melanjutkan nyanyiannya.
“ I, I wanna save you
Wanna save your heart tonight
He'll only break ya
Leave you torn apart, oh
I can't be no superman,
But for you I'll be super human
I, I wanna save ya, save ya, save ya tonight”
Agung meraih tangan Rahmanda dan menggenggam tangan gadis itu. “Ya, aku mencintaimu Rahmanda. Dan itu selalu menyiksaku saat aku melihat kau bersama Gilang” kata Agung lagi. Dan tak disangka ia balas tersenyum manis. Agung meraih pinggang gadis itu merapatkan posisi mereka. Dahi mereka kini bersentuhan. Agung bisa mendengar hembusan nafas Rahmanda yang begitu dekat dengannya.
“I Love you too, Kak Agung” mendengar kata-kata Rahmanda, Agung tersenyum. Baru kali ini ia mendengar kata ‘Kakak’ dari mulut Rahmanda.
Lalu Agung sedikit membungkukan tubuhnya dan menyentuhkan bibirnya ke bibir milik Rahmanda. Agung mencium bibir Rahmanda, bibir si gadis kecil itu. Dan Rahmanda membalas ciumannya. Gadis itu melingkarkan tangannya dileher Agung. Apakah ini mimpi? Inikah hidup? Pikir Agung dalam hati. Agung mencium Rahmanda tepat dibalkon kamar gadis itu. Ia tak peduli jika ada orang yang melihat adegan seperti ini didepan rumahnya. Yang jelas, ia menikmatinya. Agung tak bisa berbohong pada dirinya sendiri kalau this kiss was nice. Deru nafas mereka masih saling memburu. Jantung Agungpun terasa jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.

Mereka berdua melepaskan ciuman mereka dan kembali bertatapan. Tatapan keduanya begitu dalam. Dengan rasa cinta didalamnya. “Aku mencintaimu. Dan aku berjanji akan menjagamu, setiap malam, setiap waktu, setiap menit dan setiap detik” ucap Agung dengan mata yang berkilat-kilat.
“Bagaimana dengan Gilang?” Tanya Rahmanda. Agung mengangkat bahu dan kembali menarik gadis itu ke pelukannya. “Aku tidak peduli. Now, you’re mine”
“I Love You, Rahmanda”
“I Love You too, Agung”
“I Love You More”
“I Love You most”
“Stop... you’re my everything Rahmanda” Agung terkekeh didalam pelukan Rahmanda, ia juga bisa merasakan gadis itu ikut tertawa. Dan yang bisa Agung janjikan adalah, ia akan selalu menjaga gadis ini. Selalu membuat gadis itu merasa aman bersamanya. He wants save Rahmanda till the end of time.
***
FIN

READMORE
 

Record Retention Schedule

Record Retention Schedule

Agung Priyadi Nugraha  (30111352)

BOGOR | 1DBO4 MANAJEMEN INFORMATIKA

S
ebelum kita masuk kedalam pengertina recrd retention schedule, maka kita ulang sedikit masalah filing yang sudah ditulis pada bulan sebelumnya.
            Dalam FILING kita bicarakan bagaimana cara menyimpan data-data ataupun surat-surat perusahaan yang penting, tanpa melihat batas waktu sebenarnya berapa lama papers tersebut seharusnya disimpan. Untuk itu masalah kapan dan perlukah suatu papers disimpan dan kapan seharusnya surat, data maupun laporan sebaiknya dimusnahkan kita perlu mengetahui apa yang dinamakan  Record Retention Schedule.
            Adapan pengertian Record Retention Schedule menurut FX Soedjadi adalah sebagai berikut :
            Record Retention Schedule adalah suatu kebijaksanaan yang harus dilakukan dalam rangka proses manajemen, yaitu yang berhubungan dengan penggolongan, pemilihan, distribusi atauun disposisi dari record untuk menentukan recods yang mana yang perlu tetap disimpan untuk selama-lamanya serta jenis-jenis records yang mana dan dalam jangka waktu berapa lama pula perlu dimusnahkan karena sudah tidak diperlukan lagi.
            Kalau records tersebut setelah dimasukkan kedalam file sudah dimanfaatkan untuk mengatasi masalah atau persoalan-persoalan perusahaan maka records tersebut sudah dapat dimusnahkan.
            Sedangkan yang termasuk kedalam records ini adalah sebagai berikut :
a.       Surat-surat undangan rapat.
b.      Dokumen-dokumen yang bersifat periodic.
c.       Surat-surat keterangan ijin dan sakit.
d.      Surat-surat dinas kecabang perusahaan, dan sebagainya.

Records yang penting
            Yang termasuk records ini adalah catatan-catatan atau laporan-laporan ataupun dokumen-dokumen yang mempunyai waktu penggunaannya dalam jangka waktu yang relative lama, misalnya dalam jangka waktu 4 atau 5 tahun.
            Yang tergolong ke dalam recods yang penting adalah :
a.       Dokumen-dokumen penjualan.
b.      Laporan-laporan keuangan.
c.       Catatan-catatan pembukaan mengenai penerimaan dan pengeluaran masalah keuangan.
d.      Wesel-wesel tagih, dan sebagainya.

Record yang sangat penting
            Records inilah yang akan disimpan selama-lamanya sampai bangkrutnya perusahaan atau instansi yang bersangkutan. Karena records ini menyangkut mati-jidupnya perusahaan misalnya menyangkut segi yuridis atau historis berdirinya perusahaan atau instansi tersebut.

PENGGOLONGAN RECORDS
            Penggolongan records ini dilakukan untuk mengatasi masalah dalam melakukan pilihan dan menentukan  kapan suatu records harus dimusnahkan atau disimpan untuk selamanya.
            Adapun penggolongan records menurut FX Soedjadi adalah sebagai berikut :
1.      Records yang tidak penting (nonessential).
2.      Records yang dapat dimanfaatkan (helpful).
3.      Records yang penting (important).
4.      Records yang sangat penting (vital).

 Referensi :
e-book Organisasi dan metode # 
READMORE
 
                                                                     FILING

Agung Priyadi Nugraha  (30111352)
A_Pnugraha@ymail.com
agung.priyadi.n@student.gunadarma.ac.id

BOGOR | 1DBO4 MANAJEMEN INFORMATIKA

Kita berbicara tentang FILING pada kesempatan kali ini. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan FILING itu? Yang pasti ini berbeda dengan Felling yah. Mungkin untuk orang awam masing asing mendengar kata FILING ini. Tapi sebenarnya dalam dunia organisasi atau tepatnya lagi pada perusahaan FILING ini merupakan hal yang sudah lumrah terdengar.
    FILING disini berarti segala kegiatan atau tindakan atau perbuatan yang berhubungan dengan masalah pengumpulan, kasifikasi, penyimpanan, penempatan, pemeliharaan dan distribusi atas surat-surat, catatan-catatan, perhitungan-perhitungan, grafik-grafik, data ataupun informasi yang lain dan tindakan tersebut dilakukan dengan setepat-tepatya dalam rangka melakukan suatu proses manajemen serta catatan maupun surat tersebut data ditemukan kembali dengan mudah.
    Dari pengertian tersebut dapat kita simpulkan bahwa FILING adalah tidak hanya bagaimana melakukan penyimpanan saja tetapi juga yang paling penting adalah bagaimana surat yang disimpan tersebut dapat dengan mudah ditemukan kembali.
Mengapa suatu FILING diperlukan dalam suatu perusahaan?
Pentingnya suatu FILING dilakukan menyangkut :
a.    Dihubungkan dengan bisa tidaknya surat yang disimpan tersebut dipakai dengan mengikuti perubahan diwaktu-waktu yang akan dating baik menyangkut masalah yang berhubungan dengan perencanaan, pengembangan perusahaan, maupun kemajuan-kemajuan dan perubahan organisasi.
b.    Masalah keamanan penempatan FILING yang sebaiknya sewaktu-waktu jika diperlukan dapat denga mudah ditemukan, hal ini sangat penting karena menyangkut dengan proses pengambilan keputusan yang akan dilakukan perusahaan. Sehingga kecepatan waktu dalam penemuan surat yang dibutuhkan seorang manejer sangat perlu diperhatikan.
c.    FILING merupakan suatu tempat penampungan daya ingatan seorang manajeryang sewaktu-waktu jika diperlukan harus dengan cepat ditemukan. Jangan sampai pada saat ingatan tersebutdiperlukan dalam mengatasi suatu masalah susah ditemukan.
d.    FILING yang dibuat setepat-tepatnya baik pada saat penyimpanan disebut sebagai warkat atau papers.
Papers tersebut antara lain :
-    Surat pembayaran barang.
-    Surat penerimaan barang.
-    Surat hutang.
-    Surat asuransi.
-    Surat penjualan barang.
-    Surat pengiriman barang.
-    Surat-surat administrasi kepegawaian.
-    Surat-surat pembayaran pajak.
-    Surat perjanjian perdagangan.
-    Surat-surat jaminan.
-    Laporan-laporan keuangan perusahaan.
-    Daftar harga-harga bahan-bahan dasar.
-    Dan surat-surat yang lainnya.
Semua surat-surat yang tersebut di atas di samping yang belum termasuk ke dalam surat-surat di atas sangat penting gunanya bagi perusahaan, karena surat-surat di atas tersebut akan memperlancar jalannya operasi perusahaan baik dalam mengadakan perencanaan masa depan maupun target-terget perusahaan yang hendak dicapai sampai dengan masalah dalam pengambilan keputusan.

Referensi :
e-book Organisasi dan metode #







READMORE
 
Komunikasi Dalam Organisasi


Agung Priyadi Nugraha  (30111352)
A_Pnugraha@ymail.com
agung.priyadi.n@student.gunadarma.ac.id

BOGOR | 1DBO4 MANAJEMEN INFORMATIKA

Sebelum membahas pengertian komunikasi organisasi sebaiknya kita uraikan terminologi yang melekat pada konteks komunikasi organisasi, yaitu komunikasi dan organisasi.  Komunikasi berasal dari bahasa latin “communis” atau ‘common” dalam Bahasa Inggris yang berarti sama. Berkomunikasi berarti kita berusaha untuk mencapai kesamaan makna, “commonness”.  Atau dengan ungkapan yang lain, melalui komunikasi kita mencoba berbagi informasi, gagasan atau sikap kita dengan partisipan lainnya.  Kendala utama dalam berkomunikasi adalah seringkali kita mempunyai makna yang berbeda terhadap lambang yang sama.
Manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesama dalam kelompok dan masyarakat. Di dalam kelompok/organisasi itu selalu terdapat bentuk kepemimpinan yang merupakan masalah penting untuk kelangsungan hidup kelompok, yang terdiri dari pemimpin dan bawahan/karyawan. Di antara kedua belah pihak harus ada two-way-communications atau komunikasi dua arah atau komunikasi timbal balik, untuk itu diperlukan adanya kerja sama yang diharapkan untuk mencapai cita-cita, baik cita-cita pribadi, maupun kelompok, untuk mencapai tujuan suatu organisasi. Kerja sama tersebut terdiri dari berbagai maksud yang meliputi hubungan sosial/kebudayaan. Hubungan yang terjadi merupakan suatu proses adanya suatu keinginan masing-masing individu, untuk memperoleh suatu hasil yang nyata dan dapat memberikan manfaat untuk kehidupan yang berkelanjutan.
Bila sasaran komunikasi dapat diterapkan dalam suatu organisasi baik organisasi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, maupun organisasi perusahaan, maka sasaran yang dituju pun akan beraneka ragam, tapi tujuan utamanya tentulah untuk mempersatukan individu-individu yang tergabung dalam organisasi tersebut. Berdasarkan sifat komunikasi dan jumlah komunikasi menurut Onong Uchyana Effendi, dalam bukunya “Dimensi-Dimensi Komunikasi” hal. 50, komunikasi dapat digolongkan ke dalam tiga kategori:

1. Komunikasi antar pribadi
Komunikasi ini penerapannya antara pribadi/individu dalam usaha menyampaikan informasi yang dimaksudkan untuk mencapai kesamaan pengertian, sehingga dengan demikian dapat tercapai keinginan bersama.
2. Komunikasi kelompok
Pada prinsipnya dalam melakukan suatu komunikasi yang ditekankan adalah faktor kelompok, sehingga komunikasi menjadi lebih luas. Dalam usaha menyampaikan informasi, komunikasi dalam kelompok tidak seperti komunikasi antar pribadi.
3. Komunikasi massa
Komunikasi massa dilakukan dengan melalui alat, yaitu media massa yang meliputi cetak dan elektronik.
Dalam melakukan komunikasi organisasi, Steward L.Tubbs dan Sylvia Moss dalam Human Communication menguraikan adanya 3 (tiga) model dalam komunikasi:
1.  Model komunikasi linier (one-way communication), dalam model ini komunikator memberikan suatu stimuli dan komunikan melakukan respon yang diharapkan tanpa mengadakan seleksi dan interpretasi. Komunikasinya bersifat monolog.
2.  Model komunikasi interaksional. Sebagai kelanjutan dari model yang pertama, pada tahap ini sudah terjadi feedback atau umpan balik. Komunikasi yang berlangsung bersifat dua arah dan ada dialog, di mana setiap partisipan memiliki peran ganda, dalam arti pada satu saat bertindak sebagai komunikator, pada saat yang lain bertindak sebagai komunikan.
3.   Model komunikasi transaksional. Dalam model ini komunikasi hanya dapat dipahami dalam konteks hubungan (relationship) antara dua orang atau lebih. Pandangan ini menekankan bahwa semua perilaku adalah komunikatif. Tidak ada satupun yang tidak dapat dikomunikasikan.
Mengenai organisasi, salah satu defenisi menyebutkan bahwa organisasi merupakan suatu kumpulan atau sistem individual yang melalui suatu hirarki/jenjang dan pembagian kerja, berupaya mencapai tujuan yang ditetapkan.  Dari batasan tersebut dapat digambarkan bahwa dalam suatu organisasi mensyaratkan:
1.    Adanya suatu jenjang jabatan ataupun kedudukan yang memungkinkan semua individu dalam organisasi tersebut memiliki perbedaan posisi yang jelas, seperti pimpinan, staff pimpinan dan karyawan.
2.    Adanya pembagian kerja, dalam arti setiap orang dalam sebuah institusi baik yang komersial maupun sosial, memiliki satu bidang pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya.
Dengan landasan konsep-konsep komunikasi dan organisasi sebagaimana yang telah diuraikan, maka kita dapat memberi batasan tentang komunikasi dalam organisasi secara sederhana, yaitu komunikasi antarmanusia (human communication) yang terjadi dalam kontek organisasi.  Atau dengan meminjam definisi dari Goldhaber, komunikasi organisasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat hubungannya saling bergabung satu sama lain (the flow of messages within a network of interdependent relationships).
Sebagaimana telah disebut terdahulu, bahwa arus komunikasi dalam organisasi meliputi komunikasi vertikal dan komunikasi horisontal.  Masing-masing arus komunikasi tersebut mempunyai perbedaan fungsi yang sangat tegas.  Ronald Adler dan George Rodman dalam buku Understanding Human Communication, mencoba menguraikan masing-masing, fungsi dari kedua arus komunikasi dalam organisasi tersebut sebagai berikut:
1. Downward communication, yaitu komunikasi yang berlangsung ketika orang-orang yang berada pada tataran manajemen mengirimkan pesan kepada bawahannya.  Fungsi arus komunikasi dari atas ke bawah ini adalah:
a) Pemberian atau penyimpanan instruksi kerja (job instruction)
b) Penjelasan dari pimpinan tentang mengapa suatu tugas perlu untuk dilaksanakan (job retionnale)
c) Penyampaian informasi mengenai peraturan-peraturan yang berlaku (procedures and practices)
d) Pemberian motivasi kepada karyawan untuk bekerja lebih baik.
2.  Upward communication, yaitu komunikasi yang terjadi ketika bawahan (subordinate) mengirim pesan kepada atasannya.  Fungsi arus komunikasi dari bawah ke atas ini adalah:
a) Penyampaian informai tentang pekerjaan pekerjaan ataupun tugas yang sudah dilaksanakan
b) Penyampaian informasi tentang persoalan-persoalan pekerjaan ataupun tugas yang tidak dapat diselesaikan oleh bawahan
c) Penyampaian saran-saran perbaikan dari bawahan
d) Penyampaian keluhan dari bawahan tentang dirinya sendiri maupun pekerjaannya.
3.  Horizontal communication, yaitu tindak komunikasi ini berlangsung di antara para karyawan ataupun bagian yang memiliki kedudukan yang setara.  Fungsi arus komunikasi horisontal ini adalah:
a)  Memperbaiki koordinasi tugas
b)  Upaya pemecahan masalah
c)  Saling berbagi informasi
d)  Upaya pemecahan konflik
e)   Membina hubungan melalui kegiatan bersama.

Proses Komunikasi
Pada tataran teoritis, paling tidak kita mengenal atau memahami komunikasi dari dua perspektif, yaitu:
1.    Perspektif Kognitif.  Komunikasi menurut Colin Cherry, yang mewakili perspektif kognitif  adalah penggunaan lambang-lambang (symbols) untuk mencapai kesamaan makna atau berbagi informasi tentang satu objek atau kejadian.  Informasi adalah sesuatu (fakta, opini, gagasan) dari satu partisipan kepada partisipan lain melalui penggunaan kata-kata atau lambang lainnya.  Jika pesan yang disampaikan diterima secara akurat, receiver akan memiliki informasi yang sama seperti yang dimiliki sender, oleh karena itu tindak komunikasi telah terjadi.
2.    Perspektif Perilaku. Menurut BF. Skinner dari perspektif perilaku memandang komunikasi sebagai perilaku verbal atau simbolik di mana sender berusaha mendapatkan satu efek yang dikehendakinya pada receiver.  Masih dalam perspektif perilaku, FEX Dance menegaskan bahwa komunikasi adalah adanya satu respons melalui lambang-lambang verbal di mana simbol verbal tersebut bertindak sebagai stimuli untuk memperoleh respons.  Kedua pengertian komunikasi yang disebut terakhir, mengacu pada hubungan stimulus respons antara sender dan receiver.
Setelah kita memahami pengertian komunikasi dari dua perspektif yang berbeda, kita mencoba melihat proses komunikasi dalam suatu organisasi.  Menurut Jerry W. Koehler dan kawan-kawan, bagi suatu organisasi, perspektif perilaku dipandang lebih praktis karena komunikasi dalam organisasi bertujuan untuk mempengaruhi penerima (receiver).  Satu respons khusus diharapkan oleh pengirim pesan (sender) dari setiap pesan yang disampaikannya.  Ketika satu pesan mempunyai efek yang dikehendaki, bukan suatu persoalan apakah informasi yang disampaikan tersebut merupakan tindak berbagi informasi atau tidak.
Sekarang kita mencoba memahami proses komunikasi antarmanusia yang disajikan dalam suatu model berikut:
Proses komunikasi diawali oleh sumber (source) baik individu ataupun kelompok yang berusaha berkomunikasi dengan individu atau kelompok lain, sebagai berikut:
1.    Langkah pertama yang dilakukan sumber adalah ideation yaitu penciptaan satu gagasan atau pemilihan seperangkat informasi untuk dikomunikasikan.  Ideation ini merupakan landasan bagi suatu pesan yang akan disampaikan.
2.    Langkah kedua dalam penciptaan suatu pesan adalah encoding, yaitu sumber menerjemahkan informasi atau gagasan dalam wujud kata-kaya, tanda-tanda atau lambang-lambang yang disengaja untuk menyampaikan informasi dan diharapkan mempunyai efek terhadap orang lain.  Pesan atau message adalah alat-alat di mana sumber mengekspresikan gagasannya dalam bentuk bahasa lisan, bahasa tulisan ataupun perilaku nonverbal seperti bahasa isyarat, ekspresi wajah atau gambar-gambar.
3.    Langkah ketiga dalam proses komunikasi adalah penyampaian pesan yang telah disandi (encode).  Sumber menyampaikan pesan kepada penerima dengan cara berbicara, menulis, menggambar ataupun melalui suatu tindakan tertentu.  Pada langkah ketiga ini, kita mengenal istilah channel atau saluran, yaitu alat-alat untuk menyampaikan suatu pesan.  Saluran untuk komunikasi lisan adalah komunikasi tatap muka, radio dan telepon.  Sedangkan saluran untuk komunikasi tertulis meliputi setiap materi yang tertulis ataupun sebuah media yang dapat mereproduksi kata-kata tertulis seperti: televisi, kaset, video atau OHP (overheadprojector).  Sumber berusaha untuk mebebaskan saluran komunikasi dari gangguan ataupun hambatan, sehingga pesan dapat sampai kepada penerima seperti yang dikehendaki.
4.    Langkah keempat, perhatian dialihkan kepada penerima pesan.  Jika pesan itu bersifat lisan, maka penerima perlu menjadi seorang pendengar yang baik, karena jika penerima tidak mendengar, pesan tersebut akan hilang.  Dalam proses ini, penerima melakukan decoding, yaitu memberikan penafsiran interpretasi terhadap pesan yang disampaikan kepadanya.  Pemahaman (understanding) merupakan kunci untuk melakukan decoding dan  hanya terjadi dalam pikiran penerima.  Akhirnya penerimalah yang akan menentukan bagaimana memahami suatu pesan dan bagaimana pula memberikan respons terhadap pesan tersebut.
5.    Proses terakhir dalam proses komunikasi adalah feedback atau umpan balik yang memungkinkan sumber mempertimbangkan kembali pesan yang telah disampaikannya kepada penerima.  Respons atau umpan balik dari penerima terhadap pesan yang disampaikan sumber dapat berwujud kata-kata ataupun tindakan-tindakan tertentu.  Penerima bisa mengabaikan pesan tersebut ataupun menyimpannya.  Umpan balik inilah yang dapat dijadikan landasan untuk mengevaluasi efektivitas komunikasi.
Fungsi Komunikasi dalam Organisasi
Dalam suatu organisasi baik yang berorientasi komersial maupun sosial, komunikasi dalam organisasi atau lembaga tersebut akan melibatkan empat fungsi, yaitu:
1.  Fungsi informatif
Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi (information-processing system).  Maksudnya, seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti informasi pada dasarnya dibutuhkan oleh semua orang yang mempunyai perbedaan kedudukan dalam suatu organisasi.  Orang-orang dalam tataran manajemen membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi.  Sedangkan karyawan (bawahan) membutuhkan informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan kesehatan, izin cuti dan sebagainya.
2.  Fungsi Regulatif
Fungsi regulatif ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi.  Pada semua lembaga atau organisasi, ada dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi regulatif ini, yaitu:
1.    Atasan atau orang-orang yang berada dalam tataran manajemen yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk mengendalikan semua informasi yang disampaikan.  Disamping itu mereka juga mempunyai kewenangan untuk memberikan instruksi atau perintah, sehingga dalam struktur organisasi kemungkinan mereka ditempatkan pada lapis atas (position of authority) supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya.  Namun demikian, sikap bawahan untuk menjalankan perintah banyak bergantung pada:
1.    Keabsahan pimpinan dalam penyampaikan perintah.
2.    Kekuatan pimpinan dalam memberi sanksi.
3.    Kepercayaan bawahan terhadap atasan sebagai seorang pemimpin sekaligus sebagai pribadi.
4.    Tingkat kredibilitas pesan yang diterima bawahan.
2.     Berkaitan dengan pesan atau message.  Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada kerja.  Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan-peraturan tentang pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.
3. Fungsi Persuasif
Dalam mengatur suatu organisasi, kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang diharapkan.  Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah.  Sebab pekerjaan yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang lebih besar dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan kewenangannya.
4. Fungsi Integratif
Setiap organisasi berusaha menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat dilaksanakan tugas dan pekerjaan dengan baik.  Ada dua saluran komunikasi formal seperti penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (newsletter, buletin) dan laporan kemajuan oraganisasi; juga saluran komunikasi informal seperti perbincangan antarpribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga ataupun kegiatan darmawisata.  Pelaksanaan aktivitas ini akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.
Memahami Komunikasi dalam Organisasi
Gaya komunikasi atau communication style akan memberikan pengetahuan kepada kita tentang bagaimana perilaku orang-orang dalam suatu organisasi ketika mereka melaksanakan tindak berbagi informasi dan gagasan.  Sementara pada pengaruh kekuasaan dalam organisasi, kita akan mengkaji jenis-jenis kekuasaan yang digunakan oleh orang-orang dalam tataran manajemen sewaktu mereka mencoba mempengaruhi kemampuan berkomunikasi dalam organsasi, kita akan diajak untuk memikirkan bagaimana mendefinisikan tujuan kita sehubungan dengan tugas dalam organisasi, bagaimana kita memilih orang yang tepat untuk diajak kerjasama dan bagaimana kita memilih saluran yang efektif untuk melaksanakan tugas tersebut.
Gaya Komunikasi. Gaya komunikasi (communication style) didefinisikan sebagai seperangkat perilaku antarpribadi yang terspesialisasi yang digunakan dalam suatu situasi tertentu (a specialized set of intexpersonal behaviors that are used in a given situation).
Masing-masing gaya komunikasi terdiri dari sekumpulan perilaku komunikasi yang dipakai untuk mendapatkan respon atau tanggapan tertentu dalam situasi yang tertentu pula.  Kesesuaian dari satu gaya komunikasi yang digunakan, bergantung pada maksud dari pengirim (sender) dan harapan dari penerima (receiver).


Gaya Komunikasi yang akan kita pelajari adalah sbb:
1.    The Controlling style
Gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, ditandai dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa dan mengatur perilaku, pikiran dan tanggapan orang lain.  Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini dikenal dengan nama komunikator satu arah atau one-way communications.
Pihak-pihak yang memakai controlling style of communication ini, lebih memusatkan perhatian kepada pengiriman pesan dibanding upaya mereka untuk berharap pesan.  Mereka tidak mempunyai rasa ketertarikan dan perhatian untuk berbagi pesan.  Mereka tidak mempunyai rasa ketertarikan dan perhatian pada umpan balik, kecuali jika umpan balik atau feedback tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi mereka.  Para komunikator satu arah tersebut tidak khawatir dengan pandangan negatif orang lain, tetapi justru berusaha menggunakan kewenangan dan kekuasaan untuk memaksa orang lain mematuhi pandangan-pandangannya.
Pesan-pesan yag berasal dari komunikator satu arah ini, tidak berusaha ‘menjual’ gagasan agar dibicarakan bersama namun lebih pada usaha menjelaskan kepada orang lain apa yang dilakukannya.  The controlling style of communication ini sering dipakai untuk mempersuasi orang lain supaya bekerja dan bertindak secara efektif, dan pada umumnya dalam bentuk kritik.  Namun demkian, gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan ini, tidak jarang bernada negatif sehingga menyebabkan orang lain memberi respons atau tanggapan yang negatif pula.
2.    The Equalitarian style
Aspek penting gaya komunikasi ini ialah adanya landasan kesamaan.  The equalitarian style of communication ini ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan maupun tertulis yang bersifat dua arah (two-way traffic of communication).
Dalam gaya komunikasi ini, tindak komunikasi dilakukan secara terbuka.  Artinya, setiap anggota organisasi dapat mengungkapkan gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang rileks, santai dan informal.  Dalam suasana yang demikian, memungkinkan setiap anggota organisasi mencapai kesepakatan dan pengertian bersama.
Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi yang bermakna kesamaan ini, adalah orang-orang yang memiliki sikap kepedulian yang tinggi serta kemampuan membina hubungan yang baik dengan orang lain baik dalam konteks pribadi maupun dalam lingkup hubungan kerja.  The equalitarian style ini akan memudahkan tindak komunikasi dalam organisasi, sebab gaya ini efektif dalam memelihara empati dan kerja sama, khususnya dalam situasi untuk mengambil keputusan terhadap suatu permasalahan yang kompleks.  Gaya komunikasi ini pula yang menjamin berlangsungnya tindakan share/berbagi informasi di antara para anggota dalam suatu organisasi.
3.    The Structuring style
Gaya komunikasi yang berstruktur ini, memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur organisasi.  Pengirim pesan (sender) lebih memberi perhatian kepada keinginan untuk mempengaruhi orang lain dengan jalan berbagi informasi tentang tujuan organisasi, jadwal kerja, aturan dan prosedur yang berlaku dalam organisasi tersebut.
Stogdill dan Coons dari The Bureau of Business Research of Ohio State University, menemukan dimensi dari kepemimpinan yang efektif, yang mereka beri nama Struktur Inisiasi atau Initiating Structure.  Stogdill dan Coons menjelaskan mereka bahwa pemrakarsa (initiator) struktur yang efisien adalah orang-orang yang mampu merencanakan pesan-pesan verbal guna lebih memantapkan tujuan organisasi, kerangka penugasan dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul.
4.    The Dynamic style
Gaya komunikasi yang dinamis ini memiliki kecenderungan agresif, karena pengirim pesan atau sender memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan (action-oriented).  The dynamic style of communication ini sering dipakai oleh para juru kampanye ataupun supervisor yang membawa para wiraniaga (salesmen atau saleswomen).
Tujuan utama gaya komunikasi yang agresif ini adalah mestimulasi atau merangsang pekerja/karyawan untuk bekerja dengan lebih cepat dan lebih baik.  Gaya komunikasi ini cukup efektif digunakan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang bersifat kritis, namun dengan persyaratan bahwa karyawan atau bawahan mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengatasi masalah yang kritis tersebut.
5.    The Relinguishing style
Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat ataupun gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, meskipun pengirim pesan (sender) mempunyai hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang lain.
Pesan-pesan dalam gaya komunikasi ini akan efektif ketika pengirim pesan atau sender sedang bekerja sama dengan orang-orang yang berpengetahuan luas, berpengalaman, teliti serta bersedia untuk bertanggung jawab atas semua tugas atau pekerjaan yang dibebankannya.
6.    The Withdrawal style
Akibat yang muncul jika gaya ini digunakan adalah melemahnya tindak komunikasi, artinya tidak ada keinginan dari orang-orang yang memakai gaya ini untuk berkomunikasi dengan orang lain, karena ada beberapa persoalan ataupun kesulitan antarpribadi yang dihadapi oleh orang-orang tersebut.
Dalam deskripsi yang kongkrit adalah ketika seseorang mengatakan: “Saya tidak ingin dilibatkan dalam persoalan ini”.  Pernyataan ini bermakna bahwa ia mencoba melepaskan diri dari tanggung jawab, tetapi juga mengindikasikan suatu keinginan untuk menghindari berkomunikasi dengan orang lain.  Oleh karena itu, gaya ini tidak layak dipakai dalam konteks komunikasi organisasi.
Gambaran umum yang diperoleh dari uraian di atas adalah bahwa the equalitarian style of communication merupakan gaya komunikasi yang ideal.  Sementara tiga gaya komunikasi lainnya: structuring, dynamic dan relinguishing dapat digunakan secara strategis untuk menghasilkan efek yang bermanfaat bagi organisasi.  Dan dua gaya komunikasi terakhir: controlling dan withdrawal mempunyai kecenderungan menghalangi berlangsungnya interaksi yang bermanfaat.

Referensi
http://jihadi.staff.umm.ac.id/files/2010/01/2_komunikasi_organisasi.pdf
http://www.batan.go.id/mediakita/current/mediakita.php?group=Inovasi&artikel=inv2
http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_organisasi
herwanparwiyanto.staff.uns.ac.id
READMORE